Pengganti Visio Di Linux

Januari 10, 2007

Waktunya berkeluh kesah. Ada atau tidak ya pengganti Visio di GNU/Linux yang bagus?

Syarat (menururut saya) yang bagus adalah gambarnya jelas dan cocok dengan OpenOffice.org. Selama ini pakai Dia, tapi tidak ‘cocok’ (padanan bahasa yang tepat untuk compatible apa sih?) dengan OpenOffice.org. Pakai OpenOffice.org Draw, tidak (belum) familiar. Ada yang lain atau tidak ya?

powered by performancing firefox


Dewan TIK

November 21, 2006

Keberadaan Dewan TIK yang baru saja diresmikan oleh Presiden SBY pada tanggal 13 Nopember lalu, jujur saja membuat saya semakin pesimis terhadap perluasan pemakaian perangkat lunak sumber terbuka di Indonesia.

Rasa pesimis saya didasarkan pada keberpihakan Depkominfo (ketua harian Dewan TIK adalah Menkominfo) ke perangkat lunak berlisensi (baca: M$) dan diundangnya pihak M$ sebagai Dewan Penasihat.

Dan rasa pesimis itu diperkuat dengan pernyataan sang ketua harian, menguraikan strategi pemerintah melegalisasi penggunaan perangkat lunak. Dikutip dari Detikinet: “Ada dua pendekatan yang kita pakai, untuk Departemen Ristek dan PTN (perguruan tinggi negeri) mereka akan kembangkan Indonesia Goes Open Source, sedangkan di luar dua itu maka legal software-nya adalah yang hak intelektualnya akan pemerintah legalkan”. Hah yang benar saja. Dalam acara tersebut dipaparkan oleh Presiden akan ada jaringan yang digunakan untuk menghubungkan 43 ribu desa, 32 ribu SMP dan SMA, dan 2 ribu Perguruan Tinggi, dan dari seluruh angka itu perangkat lunak yang akan digunakan IGOS hanya kebagian sebagian dari 2 ribu + 1 (PTN + Dep. Ristek), sisanya tentu saja untuk M$. Itu belum ditambah instasi pemerintah dari pusat sampai daerah.

Sekali lagi pemerintah mengambil jarak dengan PTN. Dengan menerapkan pola seperti diatas pemerintah akan meletakkan IGOS beserta seluruh pendukungnya (PTN dan Ristek) di sebuah sangkar kaca yang hanya bisa dikagumi tanpa bisa disentuh dan menyentuh masyarakat luas. IGOS kemudian bernasib sama dengan banyak produk-produk riset PTN lain, yang hanya berputar di laboratorium dan tak bisa (baca: tak ada kesempatan) diterapkan.

Mau tidak mau penggiat perangkat lunak sumber terbuka harus kembali bergerak lewat bawah tanah. Penggunaan perangkat lunak sumber terbuka di masyarakat harus dilakukan pintu ke pintu. Pemerintah yang diharapkan (saya harapkan) untuk memaksa penggunaan perangkat lunak tersebut pada instansinya, ternyata segan dan memilih berada pada jalur lain. Perjuangan masih panjang.